Kami akan menikah,
dan kami ingin Anda menjadi bagian dari hari istimewa kami!
Kamis, 31 Juli 2025
Dengan memohon rahmat dan ridho Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i, untuk menghadiri Resepsi Pernikahan kami. yang Insya Allah akan dilaksanakan pada :
Kisah Perjalanan cinta kami
Kami pertama kali bertemu pada Oktober 2022, di sebuah pernikahan teman.
Tanpa sapaan, tanpa obrolan, bahkan tanpa perkenalan.
Hanya sebuah momen singkat di tengah keramaian—namun cukup untuk saling menyadari kehadiran.
Beberapa minggu kemudian, Mas Yudha mencoba menyapa lewat Messenger.
Namun pesan itu tak pernah terbaca—Aya memang jarang membuka Facebook.
Tak berhenti di situ, di tahun 2023 ia mencoba lagi, kali ini lewat DM Instagram.
Dan kali ini, Aya membalas.
Dari sana, obrolan berlanjut ke WhatsApp.
Tak sering, tak intens—hanya sesekali.
Jarak, perbedaan waktu, dan kesibukan membuat komunikasi kami terbatas.
Hanya sapaan ringan yang datang dan pergi lewat pesan singkat.
Sampai pada kiriman pesan di bulan april, tepat di hari ulang tahun aya, masuklah sebuah pesan:
“Halo Aya... Selamat ulang tahun.”
“Aku berdoa semoga kau jadi milikku aja.”
Tak ada yang istimewa, pikir Aya kala itu.
Ia hanya membalas dengan tawa kecil, menganggapnya sekadar candaan.
Namun beberapa bulan setelahnya, obrolan demi obrolan mulai terbuka.
Dari percakapan ringan hingga yang penuh makna—bahkan menyentuh hal-hal prinsipil dalam hidup.
Aya masih belum merasa ada yang istimewa.
Baginya, semua itu hanyalah percakapan yang layak untuk dijawab.
Namun diam-diam, Mas Yudha menyimak. Ia mengamati.
Dan akhirnya, ia menyampaikan niat yang sesungguhnya—tentang keseriusan dan keinginan untuk melangkah lebih jauh.
---
Kini, Kami di Sini
Dari momen “notice” tanpa kata, hingga percakapan yang makin bermakna.
Dari pesan ulang tahun yang dianggap candaan, hingga menjadi langkah awal menuju masa depan.
Beberapa waktu setelah menyampaikan niatnya, Mas Yudha memberanikan diri mengambil langkah nyata.
Tanpa banyak basa-basi, tanpa janji manis—hanya satu yang pasti: keseriusannya.
Ia tidak datang sendiri, melainkan mengutus keluarganya ke rumah Aya.
Sebuah pertemuan hangat yang awalnya direncanakan sebagai lamaran,
namun berkembang menjadi pembicaraan khitbah dan pernikahan.
Semua berlangsung dengan tenang, cepat, dan tulus.
Saat itu, Mas Yudha masih berada di Jepang.
Namun lewat video call, ia menyampaikan langsung maksud baiknya kepada kedua orang tua Aya.
Tanpa keraguan, tanpa kata-kata besar—cukup dengan keyakinan yang sederhana dan niat yang kuat.
---
Lalu, Kami Memulai
Tak ada kisah cinta yang sempurna, pun tak ada perjalanan yang sepenuhnya mulus.
Tapi kami percaya, setiap langkah kami ada dalam bimbingan-Nya.
Kami bertemu bukan karena kebetulan.
Kami berproses bukan karena dorongan sesaat.
Dan kini, kami memutuskan untuk menyatukan dua perjalanan dalam satu tujuan.
Semoga Allah meridhai niat ini.
Dan semoga langkah kecil kami hari ini menjadi awal dari perjalanan besar yang penuh keberkahan.
Aamiin...
"Hadiahkan Harapan, Restu, dan Kehadiranmu sebagai Doa Terindah di Hari Bahagia Kami."
Atas kehadiran dan Doa Restunya kami ucapkan terimakasih.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Kami Yang Berbahagia,
Keluarga Besar Kedua Mempelai